Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 18 Mei 2011

RESUME MATERI PSIKOLOGI UMUM “INTELIGENSI”

RESUME MATERI PSIKOLOGI UMUM

INTELIGENSI

UIN ALAUDDIN MAKASSA

Oleh:

NAMA : MUH. MUHNI TASNIM

NIM : 20402110053

GOL/KELAS : MATEMATIKA 3

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2011

INTELIGENSI

A. Pendahuluan

Manusia adalah makhluk yang unik, artinya tidak ada satu individu pun yang persis sama dengan individu yang lain. Salah satu perbedaan yang sering kita jumpai adalah dalam kecepatan dan kemampuan individu dalam memecahkan suatu masalah atau persoalan yang dihadapi. Untuk memecahkan masalah atau persoalan yang sama, ada individu yang mampu dengan cepat memecahkannya, namun di pihak lain ada pula individu yang lambat bahkan mungkin tidak mampu memecahkannya.

Hal itulah yang memperkuat pendapat bahwa taraf kecerdasan atau inteligensi itu memang ada, dan berbeda-beda antara satu individu dengan individu yang lain. Individu yang memiliki inteligensi tinggi akan lebih mudah memecahkan suatu persoalan, dan sebaliknya individu yang inteligensinya rendah hanya mampu memecahkan masalah yang mudah.

Sebagai ilustrasi, seorang mahasiswa yang menghadapi soal-soal ujian yang sama, ada yang mampu dengan cepat dan benar menyelesaikan soal tersebut dan sebaliknya.

Inteligensi disebut sebagai kecerdasan atau kecakapan atau kemampuan dasar yang bersifat umum, sedangkan kecerdasan atau kecakapan atau kemampuan dasar yang bersifat khusus disebut bakay (aptitude). Dalam proses belajar mengajar, prestasi belajar mahasiswa salah satunya ditentukan oleh inteligensi.

B. Pengertian

Intelegensi berasal dari bahasa Inggris “Intelligence” yang juga bersalal dari bahasa Latin yaitu “Intellectus dan Intelligentia”. Teori tentang intelegensi pertama kali dikemukakan oleh Spearman dan Wynn Jones Pol pada tahun 1951. Spearman dan Wynn mengemukakan adanya konsep lama mengenai suatu kekuatan (power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia tunggal pengetahuan sejati. Kekuatan tersebut dalam bahasa Yunani disebut dengan “Nous”, sedangkan penggunaan kekuatannya disebut “Noeseis”.

Kata "intelligence berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to bind together). Istilah inteligensi kadang-kadang atau justru sering memberikan pengertian yang salah, yang memandang inteligensi sebagai kemampuan yang tunggal, padahal menurut para ahli inteligensi mengandung bermacam-macam kemampuan. Namun demikian pengertian inteligensi itu sendiri dipandang berbeda bagi para ahli.

Alfred Binet (1857) mendefinisikan inteligensi terdiri dari tiga komponen yaitu :
a.kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan
b.kemampuan untuk mengubah arah tindakan, dan
c.kemampuan untuk mengkritik diri sendiri

William Stern mengatakan bahwa intelegensi merupakan kapasitas atau kecakapan umum pada individu yang secara sadar untuk menyesuaikan fikirannya pada situasi yang dihadapi. Analisa : definisi kecerdasan William Stern termasuk ke dalam kecerdasan fungsional karena definisi kecerdasan tersebut diartikan sebagai bentuk atau wujud berupa kapasitas atau kecakapan umum.

Lewis Madison Terman (1916) mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan seseorang utuk berpikir secara abstak. H.H Goddard (1946) mendefinisikan inteligensi sebagai tingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah–masalah yang langsung dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah–masalah yang akan datang.


V.A.C Henmon(1974) mengatakan bahwa inteligensi terdiri dari dua faktor, yakni :
a.Kemampuan untuk memperoleh pengetahuan
b.Pengetahuan yang telah diperoleh.

Edward Lee Thorndike (1913) mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta.

George D. Stoddard mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan manusia untuk menyesaikan masalah yang bercirikan:

a. Mengandung kesukaran.

b. kompleks, yaitu mampu menyerap kemampuan baru yang sudah dimiliki untuk menghadapi masalah.

c. abstrak, yakni mengandung symbol – symbol yang memerlukan analisis dan interpretasi.

d. ekonomis, yaitu proses mental yang efisien dari penggunaan waktu.

e. diarahkan pada satu tujuan.

f. Mempunyai nilai social dan berasal dari sumbernya.

Jadi, definisi kecerdasan George D. Stodart termasuk ke dalam definisi kecerdasan struktural karena definisi kecerdasan tersebut terstruktur / terbagi dalam 7 ciri – ciri kecerdasan.

Untuk mendapatkan defenisi yang pasti mengenai defenisi inteligensi secara tepat cukup sulit. Kita dapat menggunakan ilustrasi dalam menggambarkannya. Ilustrasi mungkin tidak memberikan batasan yang jelas, tetapi setidaknya ia dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai sesuatu hal.

Apabila kita memandangi sebuah kursi, maka perbuatan itu kita sebut sebagai persepsi. Tetapi jika kita mulai memikirkan bagaimana proses pembuatannya, bagaimana bahannya, maka hal tersebut telah diklasifikasikan dalam inteligensi. Begitu pun saat kita memandangi taman bunga yang berwarna-warni. Pada saat itu terjadi persepsi. Apabila kita mulai menghitung jumlah bunga yang berwarna merah, kuning, dan sebagainya, maka hal tersebut dikatakan sebagai pola yang berinteligensi.

C. Teori-teori Inteligensi

Teori-teori inteligensi dibedakan menjadi empat macam, diantaranya:

a.Teori Faktor
Teori ini dikembangkan oleh Spearman, dia mengembangkan teori dua faktor dalam kemampuan mental manusia. Yakni :

1.Teori factor “g” (factor kemampuan umum)
kemampuan menyelesaikan masalah atau tugas – tugas secara umum (misalnya, kemampuan menyelesaikan soal – soal matematika)
.

2.Teori factor “s” (factor kemampuan khusus)

kemampouan menyelesaikan masalah atau tugas - tugas secara khusus (misalnya, mengerjakan soal – soal perkalian,atau penambahan dalam matematika).

b.Teori Struktural Intelektual
Teori ini dikembangkan oleh Guilford, dia mengatakan bahwa tiap tiap kemampuan memiliki jenis keunikan tersendiri dalam aktifitas mental atau pikiran (operation), isi informasi (content), dan hasil informasi (product). Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1.Operation (aktivitas pikiran atau mental)
Cognition yaitu aktivitas mencari, menemukan, mengetahui dan memahami informasi. Misalnya mengetahui makna kata “adil” atau “krisis”
.

2.Content (isi informasi)
Visual yaitu informasi
-informasi yang muncul secara langsung dari stimulasi yang diterina oleh mata.
Auditory yakni informasi
-informasi yang muncul secara langsung dari stimulasi yang diterina oleh system pendengaran (telinga).
Simbolic yaitu i
tem-item informasi yang tersusun urut bersamaan dengan item – item yang lain. Misalnya sederet angka, huruf abjad dan kombinasinya.
Sematic biasanya berhubungan dengan makna atau arti tetapi tidak melekat pada s
imbol – simbol kata.
Behavioral yakni item informasi mengenai keadaan mental dan perilaku individuuang dipindahkan melaluyi tindakan dan bahasa tubuh.

3.Product (bentuk informasi yang dihasilkan)
Unit yaitu suatu kesatuan yang memiliki suatu keunuikan didalam kombinasi sifat dan atributnya, contoh bunyi musik,cetakan kata. Class yakni sebuah konsep dibalik sekumpulan obyek yang serupa. Misalkan bilangan genap dan ganjil. Relation yakni hubungan antara dua item. Contoh dua orang yang memiliki huruf depan berurutan, Abi kawin dengan Ani. Sistem yakni tiga item atau lebih berhubungan dalam suatu susunan totalitas. Transformation yaitu setiap perubahan atau pergantian item informasi. Implication yakni item informasi diusulkan oleh item informasi yang sudah ada. Misalkan melihat 4X5 dan berpikir 20.


c.Teori Kognitif
Teori ini dikembangkan oleh Sternberg menurutnya inteligensi dapat dianalisis kedalam beberapa komponen yang dapat membantu seseorang untuk memecahkan masalahnya diantaranya:
Metakomponen adalah proses pengendalian yang terletak pada urutan lebih tinggi yang digunakan untuk melaksanakan rencana, memonitor, dan mengevaluasi kinerja dalam suatu tugas
.
Komponen kinerja adalah proses – proses pada urutan lebih rendah yang digunakan untuk melaksanakan berbagai strategi bagi kinerja dalam tugas
Komponen perolehan pengetahuan adalah proses – proses yang terlibat dalam mempelajari informasi baru dan penyimpanannya dalam ingatan
.

d. Teori Multifaktor (L.L Thurstone)
Intelegensi terdiri dari multi faktor yang meliputi 13 faktor. Diantara 13 faktor tersebut, ada 7 faktor yang merupakan faktor dasar (primary abilities) . Ketujuh faktor tersebut adalah :

1. Verbal comprehension (V) pengertian yang diucapkan dengan kata-kata.

2. Word fluency (W) dan kefasihan menggunakan kata-kata.

3. Number (N) memecahkan masalah matematika (penggunaan angka-angka bilangan).

4. Space (S) kecakapan tilikan ruang, sesuai dengan bentuk hubungan formal, seperti menggambar design from memory.

5. Memory (M) mengingat ,kecakapan mengamati dan menafsirkan, mengamati

6. Perceptual (P) persamaan dan perbedaan suatu objek .
kecakapan menemukan

7. Reasoning (R) dan menggunakan prinsip – prinsip


e. Teori Kecerdasan Majemuk (multiple intelligences)

Teori ini dikembangkan oleh Howard Gadner, dalam teorinya ia mengemukakan sedikitnya ada delapan jenis inteligensi yang dimiliki manusia secara alami, diantaranya :

1.Inteligensi bahasa (verbal or linguistic intelligence) yaitu kemampuan memanipulasi kata – kata didalam bentuk lisan atau tulisan. Misalnya membuat puisi

2.Inteligensi matematika-logika (mathematical-logical) yaitu kemampuan memanipulasi system-sistemangka dan konsep-konsep menurut logika. Misalkan para ilmuwan bidang fisika, matematika

3.Inteligensi ruang (spatial intelligence) adalah kemampuan untuk melihat dan memanipulasi pola-pola dan rancangan. Contohnya pelaut, insinyur dan dokter bedah.

4.Inteligensi musik (musical intelligence)adalah kemampuan memahami dan memanipulasi konsep-konsep musik. Contohnya intonasi, irama, harmoni

5.Inteligensi gerak-tubuh(bodily-kinesthetic intelligence)yakni kemampuan untuk menggunakan tubuh dan gerak. Misalkan penari, atlet

6.Inteligensi intrapersonal yaitu kemampuan untuk memahami perasaan – perasaan sendiri, refleksi, pengetahuan batin, dan filosofinya,contohnya ahli sufi dan agamawan

7. Intelegensi interpersonal yakni kemampuan untuk memahami orang lain dan membina hubungan dengan orang lain.Contohnya psikolog, terapis, dll.

8. Initelegensi naturalistik yakni kemampuan untuk mengenali dan memahami lingkungan sekitar, seperti mengenali jenis-jenis hewan,tumbuhan,dll. Tapi bagi anak kota yang mungkin jarang menemukan hewan dan tumbuhan yang bervariasi,maka lingkungan yang dimaksud bisa seperti mengenali jenis-jenis mtobil,motor,dll. contoh profesi yang menggunakan kecerdasan ini adalah ahli biologi,botanis,dll.

D. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Inteligensi

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :

1. Faktor bawaan atau keturunan

Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

2. Faktor lingkungan

Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

Kontroversi mengenai apakah inteligensi lebih ditentukan oleh faktor bawaan (genetically determined) ataukah oleh faktor lingkungan (learned) terus berlangsung dan tidak ditemukan jawaban yang menggambarkan scara pasti mana yang lebih berpengaruh sampai saat ini. Namun dapat disimpulkan bahwa ternyata kedua faktor tersebut sangatlah berpengaruh bagi inteligenisi seseorang. Di samping faktor tersebut, ada bbeberapa faktor lain yang mempengaruhi inteligensi:

a. Stabilitas intelegensi dan IQ.

b. Pengaruh faktor kematangan.

c. Pengaruh faktor pembentukan.

d. Minat dan pembawaan yang khas.

e. Kebebasan.

Semua faktor tersebut di atas bersangkutan satu sama lain. Untuk menentukan intelegensi atau tidaknya seorang individu, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada salah satu faktor tersebut, karena intelegensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi turut serta menentukan dalam perbuatan intelegensi seseorang.

E. Pengukuran Inteligensi

Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.

Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental ) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.

Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.

Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS ( Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC ( Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.

Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.

G. Tingkat Kecerdasan

TINGKAT KECERDASAN

IQ

Genius

Di atas 140

Sangat Super

120 – 140

Super

110 – 120

Normal

90 -110

Bodoh

80 – 90

Perbatasan (Feebleminded)

70 – 80

Moron

50 – 70

Imbecile

25-50

Idiot

0 – 25

a. Individu yang memiliki taraf kecerdasan perbatasan, cirinya bodoh dan bebal.

b. Individu yang taraf kecerdasannya moron atau debil, cirinya tolol.

c. Individu yang taraf kecerdasannya imbecile, cirinya dungu.

d. Individu yang taraf kecerdasannya idiot, cirinya pandir.

H. Inteligensi dan Bakat

Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.

Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.

I. Inteligensi dan Kreativitas

Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.

Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

Sumber dan Referensi:

  1. Azwar, Saifuddin. Pengantar Psikologi Inteligensi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  2. Jaali, H. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
  3. Sarlito, Sarwono. 2000. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta.
  4. Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: Penebit Buku Kedokteran ECG.
  5. Walgito, Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Andi.

Tidak ada komentar: