Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 18 Mei 2011

AQIDAH AKHLAK RESUME

TUGAS AQIDAH AKHLAK

"RESUME MATERI KULIAH SEMESTER I"

DI SUSUN OLEH:

NAMA : MUH. MUHNI TASNIM

NIM : 20402110053

JURUSAN : PEND. MATEMATIKA

KELAS : MATEMATIKA 3

DOSEN : NURDIN,S.Ag,M.HI

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2011

BAB I

ARTI DAN RUANG LINGKUP AQIDAH

A. Pengertian Aqidah

  1. Bahasa. Aqidah berasal dari kata ‘aqada-ya’qidu-‘aqidan yang berarti simpul, ikatan, dan perjanjian yang kokoh dan kuat. Setelah terbentuk menjadi aqidatan (aqidah) berarti kepercayaan atau keyakinan. Kaitan antara aqdan dengan ‘aqidatan adalah bahwa keyakinan itu tersimpul dan tertambat dengan kokoh dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian.
  2. Istilah. Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara mudah oleh manusia berdasarkan akal, wahyu (yang didengar) dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan dalam hati, dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dangan kebenaran itu.

B. Ruang Lingkup

  1. Ilahiah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ilah (Tuhan), seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat-sifat Allah, perbuatan-perbuatan (af’al) Allah, dan lain-lain.
  2. Nubuwwah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu mukjizat, dan sebagainya yang berhubungan dengan nabi dan rasul, termasuk pembicaraan mengenai kitab-kitab Allah, dan sebagainya.
  3. Ruhaniah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik, seperti malaikat, jin, iblis, setan, dan ruh.
  4. Sam’iyah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui melalui sami, yakni dalil naqli berupa Al-Qur’an dan As-Sunah, seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur dan sebagainya.

Di samping sistematika di atas, pembahasan aqidah bisa juga mengikuti sistematika arkanul iman (Rukun Iman), yaitu : Iman Kepada Allah, Malaikat, Kitab-Kitab Suci, Nabi dan Rasul, Hari Akhir, serta Qada’ dan Qadar.

C. Dalil-dalil tentang Aqidah

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah (kepada mereka yang berbuat kemusyirikan kepada Allah) siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan dan menguasai) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”. (QS : Yunus [10] : 31)

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Ketahuilah/ilmuilah bahwasanya Laa Ilaha Illalah”.(QS : Muhamad [47]

: 19).

إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Kecuali yang bersaksi terhadap Laa Ilaha Illalah dan mereka mengetahuinya”.(QS : Zukhruf [47] : 86).

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Tidaklah kami mengutus seorang Rosul/utusan sebelummu kecuali kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku (Allah) maka bertauhidlah pada Ku (Allah)”. (QS : Al Anbiya’ [21] : 25).

BAB II

KEYAKINAN KEPADA ALLAH

A. Pengertian

Adapun yang dimaksud dengan Iman kepada Allah SWT adalah membenarkan dengan seyakin-yakinnya dalam hati dan pikirannya terhadap adanya Allah SWT sebagai pencipta seluruh jagad alam dan beserta isinya serta mempercayai bahwa Allah memiliki seluruh sifat dan Asma yang sebagaimana telah disebutkan dalam AlQuran dan Hadist, tanpa adanya keraguan sedikitpun.

B. Sifat

v Sifat-sifat Wajib Allah

1. Wujud artinya Ada
2. Qidam artinya Sedia (adanya tidak didahului oleh sesuatu)
3. Baqo’ artinya Kekal
4. Mukholafatu Lilhawadisi artinya Tidak Menyerupai Sesuatu
5. Qiyamuhu bi Nafsihi artinya Berdiri pribadi
6. Wahdaniyat artinya Esa (satu)
7. Qudrot artinya Kuasa
8. Irodat artinya Berkemauan (Berkehendak)
9. 'Ilmun artinya Mengetahui (berpengetahuan)
10. Hayat artinya Hidup
11. Sam’un artinya Mendengar
12. Bashorun artinya Melihat
13. Kalamun artinya Berbicara
14. Kaunuhu Qodiron artinya Berkeadaan Yang Berkuasa
15. Kaunuhu Muridan artinya Berkeadaan Yang Berkemauan
16. Kaunuhu ‘Aliman artinya Berkeadaan Yang Berpengetahuan
17. Kaunuhu Hayyan artinya Berkeadaan Yang Hidup
18. Kaunuhu Sami’an artinya Berkeadaan Yang Mendengar
19. Kaunuhu Bashiron artinya Berkeadaan Yang Melihat
20. Kaunuhu Mutakalliman artinya Berkeadaan Yang Berbicara

v Sifat-sifat Mustahil Allah

1. Al-Adamun artinya Tidak Ada
2. Al-Khudusun artinya Baru (ada permulaannya)
3. Al-Fana’un artinya Berubah-ubah (tidak Kekal)
4. Al-Mumasalatun lil Hawadis artinya Menyerupai Sesuatu
5. Al-Ihtaju Lighoirihi artinya Tidak Berdiri Pribadi (berhajat kepada yang lain)
6. Ujudil Syariki artinya Lebih dari Satu (berbilang)
7. Al-‘ajzu artinya Tidak Berkuasa
8. Al-Karohatu artinya Tidak Berkemauan (Terpaksa)
9. Al-Jahlun artinya Bodoh
10. Al-Mautun artinya Mati
11. As-Shomamu artinya Tuli
12. Al-‘Umyu artinya Buta
13. Al-Bukmu artinya Bisu
14. Kaunuhu ‘Ajizan artinya Berkeadaan Yang Tidak berkuasa
15. Kaunuhu Mukrohan artinya Berkeadaan Yang Terpaksa
16. Kaunuhu Jahilan artinya Berkeadaan Yang Bodoh
17. Kaunuhu Mayyitan artinya Berkeadaan Yang Mati
18. Kaunuhu Ashommu artinya Berkeadaan Yang Tuli
19. Kaunuhu a’ma artinya Berkeadaan Yang Buta
20. Kaunuhi Abkamu artinya Berkeadaan Yang Bisu

v Sifat Jaiz Allah yaitu Allah membuat atau tidak membuat segala sesuatu yang mungkin ini, hanyalah kemungkinan belaka. Sifat membuat alam ini atau tidak membuatnya adalah sifat JAIZ bagi Allah namanya. Artinya boleh jadi dikehendaki boleh jadi tidak. Apabila dikehendaki, diadakanlah dan terjadi; dan apabila tidak dikehendaki, tidak diadakan dan tidak terjadi.

C. Unsur Keimanan Kepada Allah

Iman kepada Allah mengandung empat unsur, yaitu sebagai berikut:

1. Beriman akan adanya Allah.

2. Mengimani sifat rububiyah Allah (Tauhid Rububiyah)

3. Mengimani sifat uluhiyah Allah (Tauhid Uluhiyah)

4. Mengimani Asma’ dan Sifat Allah (Tauhid Asma’ wa Sifat)

D. Buah beriman kepada Allah

Beriman kepada Allah secara benar sebagaimana digambarkan akan membuahkan beberapa hasil yang sangat agung bagi orang-orang beriman, diantaranya:

  1. Merealisasikan pengesaan kepada Allah sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut, dan tidak menyembah kepada selain-Nya.
  2. Menyempurnakan kecintaan terhadap Allah, serta mengagungkan-Nya sesuai dengan kandungan makna nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya Yang Agung.
  3. Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah serta menjauhi apa yang dilarang-Nya.

E. Dalil-dalil tentang Keyakinan Kepada Allah



Wahai orang yang beriman; berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad SAW), kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barangsiapa kafir (tidak beriman) kepada Allah, malaikat-Nya. kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Akhirat, maka sesungguhnya orang itu sangat jauh tersesat. QS. an-Nisaa' (4): 136.


Dan Tuhan itu, Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. QS. al-Baqarah (2): 163.


Katakanlah olehmu (wahai Sufyan, jika kamu benar-benar hendak memeluk Islam): Saya telah beriman akan Allah; kemudian berlaku luruslah kamu. (HR. Taisirul Wushul, 1: 18).


Manusia yang paling bahagia memperoleh syafaat-Ku di hari kiamat, ialah: orang yang mengucapkan kalimat La ilaha illallah. (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12).


Barangsiapa mati tidak memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk surga. Dan barangsiapa mati tengah memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka. (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12.

BAB III

KEYAKINAN KEPADA PARA MALAIKAT

A. Pengertian

1. Malaikat. Secara bahasa (etimilogi), kata malaikat merupakan bentuk jamak dari kata ma’lakun yang berarti utusan. Sedangkan menurut istilah (terminologi), malaikat adalah hamba-hamba Allah SWT diciptakan dari cahaya dan bertugas untuk melaksanakan berbagai bentuk ketaatan kepada-Nya secara totalitas dan tanpa penentangan sedikitpun, sehingga mereka senantiasa mengerjakan perintah dari Robbnya dengan baik.

  1. Iman kepada malaikat. Beriman kepada malaikat yaitu mempercayai secara jazm (percaya sepercaya-percayanya) dengan adanya malaikat sebagai makhluk Allah yang mulia meliputi keberadaan mereka, nama-nama mereka, ibadah mereka, ketaatan mereka, tugas-tugas mereka, dan semua yang berkaitan dengan mereka.

B. Tugas dan Sifat Malaikat

1. Tugas Malaikat

a. Beribadah kepada Allah SWT dengan senantiasa bertasbih kepada-Nya baik siang maupun malam tanpa rasa bosan maupun terpaksa

b. Membawa wahyu kepada anbiya’ maupun para Rasul

c. Memohon ampunan bagi kaum yang beriman

d. Meniup sangkakala

e. Mencatat amal perbuatan manusia dan jin

f. Mencabut nyawa

g. Memberi salam kepada para penghuni syurga

h. Menyiksa para penghuni neraka

i. Memikul arsy’ Allah SWT

j. Memberi kabar gembira dan memperkuat kondisi kaum mukminin

k. Mengerjakan berbagai pekerjaan lain selain di atas, seperti melarang perbuatan maksiat dan memberikan pelajaran, membagi tugas dan pekerjaan, membawa kebaikan, menyebarkan rahmat, membedakan antara benar dan salah, dll.

2. Sifat Malaikat

a. Ghaib. (tidak terlihat oleh kasat mata)

b. Taat dan tak pernah maksiat kepada Allah.

c. Teliti dan disiplin.

d. Mereka juga memiliki sayap yang berbeda-beda, ada yang 2 pasang, 3, 4 bahkan malaikat Jibril Alaihissalam memiliki sayap hingga enam ratus.

e. Senantiasa mendoakan dan mencintai serta menolong orang-orang mu’min.

f. Dapat merubah bentuk dengan izin Allah swt. menyerupai sesuatu yang baik termasuk manusia.

g. Tidak masuk pada rumah yang ada patungnya, atau gambar, atau anjing, atau lonceng dan merasa tersakiti dengan apa yang menyakiti orang-orang mu’min.

h. Tidak suka masuk pada tempat-tempat yang hina, dll.

C. Malaikat dan Tugas-tugasnya

Ada 10 malaikat yang wajib kita imani secara tafshil, dimana kesemuanya memiliki tugas masing-masing yaitu sebagai berikut:

1. Jibril kadang juga disebut Ruhul Qudus atau Ruhul Amin. Tugasnya menyampaikan wahyu.

2. Mikail atau sering disebut Mika’il. Sebagai pembagi rezeki.

3. Malik atau Zabaniyyah. Penjaga neraka.

4. Raqibun ‘Atid. (Yang dekat lagi mencatat) atau juga Kiraman Katibin (yang mulia lagi mencatat). Mencatat amalan baik dan buruk.

5. Israfil, bertugas meniup sangkakala pada hari Kiamat.

6. Munkar & Nakir, bertugas mengawal penghuni kubur.

Sedangkan dua nama yang tersisa merupakan nama-nama yang maudhu’ dan tidak di anjurkan untuk dipakai, yaitu;

1. Izra’il, pencabut nyawa, oleh sebab itu yang benar adalah menamakannya dengan Malakul Maut.

2. Ridhwan, penjaga surga oleh karenanya yang benar adalah menamakannya dengan Penjaga Syurga.

D. Manfaat Iman Kepada Malaikat

1. Semakin meyakini kebesaran, kekuatan dan kemahakuasaan Allah SWT.

2. Bersyukur kepada-Nya, karena telah menciptakan para malaikat untuk membantu kehidupan dan kepentingan manusia dan jin.

3. Menumbuhkan cinta kepada amal shalih, karena mengetahui ibadah para malaikat

4. Merasa takut bermaksiat karena meyakini berbagai tugas malaikat seperti mencatat perbuatannya, mencabut nyawa dan menyiksa di naar.

5. Cinta kepada malaikat karena kedekatan ibadahnya kepada Allah SWT, dan karena mereka selalu membantu dan mendoakan kita.

E. Dalil-dalil tentang Malaikat

عَنْ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْأَبِي هُرَيْرَةَ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ

Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud”. (QS. Al A’raaf [7]: 206)

وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَضَى اللَّهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتْ لِهِ كَالسِّلْسِلَةِ عَلَى صَفْوَانٍ يَنْفُذُهُمْ ذَلِكَ فَإِذَا { فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا } لِلَّذِي قَالَ { الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ }

Apabila Allah menentukan suatu keputusan di langit, maka semua malaikat sama-sama memukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman Allah SWT, sehingga seperti bunyi-bunyian yang sangat nyaring. Sehingga apabila telah mereda rasa takut dalam hati mereka, maka mereka saling berbisik satu sama lain: Apakah yang diucapkan oleh Allah? Maka jawab yang lain: Kebenaran, Dia adalah Maha Luhur lagi Maha Besar.” (Hadits Nabi SAW)

.

(( أَنْ تُؤمِنَ باِلله وَمَلاَئِكَتِهِ… ))

“Yaitu engkau beriman kepada Alloh dan malaikat-malaikat-Nya….” (HR. Muslim)

BAB IV

KEYAKINAN KEPADA KITAB-KITAB SUCI

A. Pengertian Kitab

1. Kitab. Kitab Allah ialah wahyu Allah SWT yang disampaikan kepada para Rasul untuk diajarkan kepada umat manusia sebagai petunjuk dan pedoman hidup.Tujuan Allah menurunkan kitab-kitab itu agar digunakan sebagai pedoman hidup bagi seluruh manusia menuju jalan hidup yang benar dan diridhai-Nya.

2. Iman kepada Kitab-kitab Suci. Iman kepada kitab – kitab Allah adalah mempercayai dan meyakini sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab –Nya kepada para nabi atau rasul yang berisi wahyu Allah untuk disampaikan kepada umat manusia lainnya.

B. Keistimewaan Al-Qur'an Dibanding Kitab Sebelumnya

1. Dari segi turunnya: AlQuran diturunkan kepada Muhammad SAW dengan Haq, kemudian para sahabat memperolehnya dengan cara hafalan dan ditulis.

2. Kandungan AlQuran sempurna, Yaitu menjadi pertimbangan kebenaran terhadap kitab-kitab sebelumnya, Apa-apa yang sesuai dengan Alquran maka itulah yang Haq.

3. AlQuran adalah satu-satunya kitab Suci yang selamat dari penyelewengan dan perubahan yang dilakukan oleh pengikutnya yang tak bertanggung jawab

4. Bahasa yang dipakai di dalam AlQuran sangat indah tidak akan ada yang mampu membuat ayat seperti itu

5. AlQuran adalah petunjuk dan syifaaun.

6. AlQuran adalah Kitab yng paling sering dibaca manusia.

C. Hikmah Beriman Kepada Kitab-kitab Suci

1. Mempertebal keimanan kepada Allah swt. Karena banyak hal-hal kehidupan manusia yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan dan akal manusia, maka kitab-kitab Allah mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan manusia, baik yang nampak maupun yang gaib.

2. Memperkuat keyakinan seseorang kepada tugas Nabi Muhammad saw. Karena dengan meyakini kitab-kitab Allah swt. Maka akan percaya terhadap kebenaran al-Quran dan ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad saw.

3. Menambah ilmu pengetahuan. Karena di dalam kitab-kitab Allah, di samping berisi tentang perintah dan larangan Allah, juga menjelaskan tentang pokok-pokok ilmu pengetahuan untuk mendorong manusia mengembangkan dan memperluas wawasan sesuai dengan perkembangan zaman.

4. Menanamkan sikap toleransi terhadap agama lain. Karena dengan beriman kepada kitab-kitab Allah maka umat Islam akan selalu menghormati dan menghargai orang lain. Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam al-Quran dan hadits.

D. Dalil-dalil tentang Kitab-Kitab Suci

( ياَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلكِتَبِ اَّلذِيْ نَزَّلَ عَلَى رَسُوْلِهِ وَاْلكِتَبِ اَّلذِيْ أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ… .)

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah kamu sekalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.”(Qs.An-Nisa’:136)

(وَاَنْزَلْنَا اِلَيْكَ اْلكِتَبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقَا لِّمَابَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ…)

“Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu…(al-Maidah : 48)

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ مَا إِنْ تَمَسَكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَااللهِ وَسُنَةَ رَسُوْلَهُ. (رواه حكيم

“kutinggalkan untukmu dua perkara (pusaka), kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu (al-Quran) dan sunnnah rasulNya.”(H.R. Al-Hakim)

(عَلَيْكَ بِتِلاَوَةِ اْلقُرْأَنَ فَإِنَّهُ نُوْرٌ لَّكَ فِى اْلأَرْضِ وَذُخْرُ لَكَ فِى السَّمَاءِ (رواه ابن ماجه

“atas engkau membaca al-Quran adalah cahaya bagimu dibumi dan simpananmu dilangit.”(HR. Ibn Majah)

BAB V

KEYAKINAN KEPADA PARA NABI DAN RASUL

A. Pengertian Nabi dan Rasul

  1. Nabi dalam bahasa Arab berasal dari kata naba. Dinamakan Nabi karena mereka adalah orang yang menceritakan suatu berita dan mereka adalah orang yang diberitahu beritanya (lewat wahyu). Sedangkan kata rasul secara bahasa berasal dari kata irsal yang bermakna membimbing atau memberi arahan. Definisi secara syar’i yang masyhur, nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu namun tidak diperintahkan untuk menyampaikan sedangkan Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu dalam syari’at dan diperintahkan untuk menyampaikannnya.
  2. Beriman kepada rasul-rasul Allah maksudnya adalah membenarkan dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah telah mengutus pada tiap-tiap umat, seorang rasul yang mengajak umatnya menyembah Allah semata dan mengingkari sesembahan selain-Nya.

B. Beberapa Nabi dan Rasul yang Perlu Diketahui

  1. Adam ‘Alaihissalam (QS. Thaha: 115).
  2. Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, Isa, Ilyas, Ismail, Ilyasa, Yunus, dan Luth. (QS. Al-An’am: 83-89).
  3. Idris ‘Alaihissalam (QS. Maryam: 56).
  4. Hud ‘Alaihissalam (QS. Asy-Syu’ara: 123-125).
  5. Shalih ‘Alaihissalam (QS. Asy-Syu’ara: 141-143).
  6. Syu’aib ‘Alaihissalam (QS. Asy-Syu’ara: 176-178).
  7. Zulkifli ‘Alaihissalam (QS. Shad: 48).
  8. Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (QS. Al-Ahzab: 40).

C. Dalil-dalil tentang Nabi dan Rasul

Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.(Q.S. Al An’aam: 148).

الإِيْماَنُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَِئكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرَسُلِهِ والْيَوْمِ اْلآخِرِوَتُؤْمِنَ بِالْقَدِرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

”Iman adalah engkau percaya kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, hari akhir, dan percaya kepada taqdirNya, yang baik dan yang buruk.” (Mutafaqqun ‘alaihi)

D. Sifat-sifat Para Nabi dan Rasul

1. Fatanah yaitu kecerdasan yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional, dan terutama spiritual.

2. As-siddiq yaitu jujur pada diri sendiri, jujur terhadap orang lain, jujur terhadap Allah, menyebarkan salam.

3. Tabligh yaitu menyampaikan kebenaran melalui suri tauladan dan perasaan cinta yang mendalam

4. Amanah yaitu sikap yang bisa dipercaya, menghormati, dan dihormati

5. Jaiz yaitu memiliki sifat layanya manusia biasa.

E. Sunnah-sunnah yang Harus Diikuti

1. Berbuat baik kepada kedua orang tua

2. Taubat

3. Menahan hawa nafsu

4. Sabar

5. Syukur

6. Akhlak

F. Alasan Diutusnya Para Nabi dan Rasul

1. Memperbaiki ajaran sebelumnya.

2. Banyak ajaran sebelumnya yang hilang

3. Terbatasnya waktu yang diberikan pada seorang nabi.

BAB VI

KEYAKINAN KEPADA HARI KIAMAT DAN PERTANGGUNGJAWABAN

MANUSIA DI AKHIRAT

A. Pengertian Hari Akhirat

1. Hari kiamat adalah hari akhir kehidupan seluruh manusia dan makhluk hidup di dunia yang harus kita percayai kebenaranmya dimana menjadi jembatan untuk menuju ke kehidupan selanjutnya di akhirat yang kekal dan abadi.

2. Iman kepada hari akhir adalah mempercayai dengan sepenuh hati tanpa keraguan sedikit pun bahwa sesudah alam dunia yang fana ini masih ada alam akhirat yang sifatnya kekal.

B. Alam Gaib Yang Berhubungan Dengan Hari Akhirat

1. Yaumul Barzakh (Masa Penantian Sebelum Terjadinya Hari Kiamat Besar).

2. Yaumul Ba’ats (Hari kebangitan dari Alam Kubur) .

3. Yaumul Hasyr (Hari Berkumpul di padang Mahsyar).

4. Yaumul Hisãb (Hari Perhitungan/Pemeriksaan).

5. Yaumul Mîzan (Hari Pertimbangan Amal) .

6. Yaumul Jaza (Hari Pembalasan) .


C. Hari Akhir Menurut Al-Qur'an (Dalil Naqli)

Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran. Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (Qs al qaari'ah: 1-5).

D. Hari Akhir Menurut Ilmu Pengetahuan (Dalil Aqli)

  1. Menurut Ahli Astronomi
    Bumi dan planet-planet lainnya berputar mengelilingi matahari secara teratur dan sempurna masing-masing planet mempunyai daya tarik-menarik sehingga beredar dan bergerak seimbang/serasi. Namun daya tarik menarik itu semakin lama akan semakin berkurang bahkan hilang sama sekali, akhirnya akan saling bertabrakan dan hancur
  2. Menurut ahli Geologi
    Di dalam perut bumi terdapat gas yang panas yang berkembang dan terus menerus menekan kearah luar bumi. Akan tetapi bumi itu sendiri mendapat tekanan (atmosfir) dari luar atau permukaannya, sehingga terjadilah keseimbangan. Namun diperkirakan bahwa tekanan dari luar semakin lama semakin lemah, bahkan tak berdaya lagi akhirnya mengakibatkan gas bumi akan meledak dengan ledakan yang sangat dahsyat dan akan mengeluarkan bola api raksasa yang membawa kehancuran.
  3. Menurut Ahli Fisika
    Menurut Teori Ilmu Alam bahwa sumber energi terbesar yang dapat memenuhi kebutuhan semua kehidupan di dunia ini adalah matahari. Begitu juga daya tarik antara benda-benda angkasa (planet) itu ada ketergantungan dengan energi matahari. Namun lambat laun sinar matahari semakin melemah, akibatnya mempengaruhi daya tarik diantara planet-planet tersebut akhirnya tidak ada keseimbangan, maka terjadilah tabrakan diantara mereka.
  4. Pendapat lain dari Sarjana Astronomi Jh. Van Vierngen dan kawan-kawannya.
    Mereka memperkirakan bahwa alam semesta ini akan meletus akibat dari pengembangan yang terus menerus tanpa batas. Diumpamakan seseorang yang meniup balon terus menerus tanpa henti maka balon tersebut akan meledak. Sampai saat ini alam ini sedang terus mengalami pengembangan, sehingga akan melebihi kapasitas maksimal, akibatnya langit yang membentang luas itu akan pecah dan hancur berantakan.

E. Fungsi Beriman Kepada Hari Akhirat

  1. Menambah keyakinan bahwa perbuatan di dunia sebagai bekal kehidupan di akhirat.
  2. Meyakini bahwa Allah swt akan memberikan balasan kepada hambanya sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing.
  3. Dengan meyakini adanya hari akhir, maka seseorang akan memiliki sifat optimis dalam menjalani kehidupan di dunia ini untuk menyongsong kehidupan yang hakiki dan abadi kelak di akhirat.
  4. Menumbuhkan sifat ikhlas dalam beramal, istiqomah dalam pendirian dan khusuk dalam beribadah.
  5. Senantiasa melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar untuk mencapai ridha Allah swt.
  6. Meyakini bahwa segala perbuatan selama hidup di dunia ini yang baik maupun yang buruk harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah swt kelak di akhirat.

BAB VII

KEYAKINAN KEPADA QADA' DAN QADAR (TAKDIR)

A. Pengertian

1. Arti Qada' dan Qadar

Menurut bahasa Qadha memiliki beberapa pengertian yaitu: hukum, ketetapan,pemerintah, kehendak, pemberitahuan, penciptaan. Menurut istilah Islam, yang dimaksud dengan qadha adalah ketetapan Allah sejak zaman Azali sesuai dengan iradah-Nya tentang segala sesuatu yang berkenan dengan makhluk. Sedangkan Qadar, arti qadar menurut bahasa adalah: kepastian, peraturan, ukuran. Adapun menurut Islam qadar perwujudan atau kenyataan ketetapan Allah terhadap semua makhluk dalam kadar dan berbentuk tertentu sesuai dengan iradah-Nya.

Qadar ialah menentukan batas (ukuran) sebuah rancangan; seperti besar dan umur alam semesta, lamanya siang dan malam, anatomi dan fisiologi makhluk nabati dan hewani, dan lain-lain; sedang qada ialah menetapkan rancangan tersebut

Qada dapat diartikan sebagai ketetapan Allah yang telah ditetapkan tetapi tidak kita ketahui. Sedangkan qadar ialah ketetapan Allah yang telah terbukti dan diketahui sudah terjadi. Dapat pula dikatakan bahwa qada adalah ketentuan atau ketetapan, sedangkan qadar adalah ukuran. Dengan demikian yang dimaksud dengan qada dan qadar atau takdir adalah ketentuan atau ketetapan Allah menurut ukuran atau norma tertentu.

2. Contoh Qada' dan Qadar

B. Sikap Positif Terhadap Qada' dan Qadar

1. Ikhtiar, yaitu melakukan usaha secara maksimal sesuai dengan kemampuan pada suatu perkara.

2. Tawakkal, yaitu penyerahan diri pada suatu perkara tentang apa yang Allah berikan setelah kita melakukan ikhtiar.

3. Tawadhu, yaitu bersikap rendah diri atas segala yang diberikan Allah kepada kita.

4. Tabah, yaitu sikap menerima dan mensyukuri terhadap segala ketentuan Allah, baik itu ketentuan baik dan buruk, dimana disertai dengan perenungan dari.

C. Dalil-dalil

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)

“كتب الله مقادير الخلائق قبل أن يخلق السموات والأرض بخمسين ألف سنة وعرشه على الماء”

“Allah s.w.t telah menulis takdir makhluk sebelum Dia mencipta langit-langit dan bumi dalam jarak 50 ribu tahun dan Arasy-Nya berada di atas air”. [Muslim].

BAB VIII

ARTI DAN RUANG LINGKUP AKHLAK SERTA PERBEDAANNYA

DENGAN MORAL DAN ETIKA

A. Pengertian Akhlak

  1. Bahasa. Kata "akhlak" berasal dari bahasa Arab "khuluq", jamaknya "khuluqun", menurut lughat diartikan sebagai budi pekerti, peragai, tingkah laku, atau tabiat. Kata "akhlak" meliputi segi-segi kejiwaan dari tingkah laku lahiriah dan batiniah seseorang. Kata "akhlak" mengandung persesuaian dengan perkataan "khalqun" yang artinya kejadian serta erat hubungannya dengan Khaliq yang berarti Pencipta, dan makhluk yang berarti yang diciptakan.
  2. Istilah. Akhlak adalah daya kekuatan (sifat) yang tertanam dalam jiwa dan mendorong perbuatan-perbuatan spontan tanpa memerlukan terlalu banyak pertimbangan dan pemikiran yang lama. Jadi, akhlak merupakan sikap yang melekat pada diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku dan perbuatan.

B. Syarat Sifat Cerminan Akhlak

Suatu perbuatan dikatakan sebagai cerminan akhlak, jika memenuhi syarat sebagai berikut:

1. Dilakukan berulang-ulang sehingga hampir menjadi suatu kebiasaan.

2. Timbul dengan sendirinya, tanpa pertimbangan yang lama dan dipikir- pikir terlebih dahulu.

C. Ruang Lingkup Akhlak

Ruang lingkup akhlak dalam Islam meliputi akhlak terhadap Allah atau Khalik (pencipta), dan akhlak terhadap makhluk. Adapun akhlak terhadap makhluk dibagi atas akhlak terhadap manusia, dan akhlak terhadap bukan manusia. Akhlak terhadap manusia dibagi atas akhlak terhadap diri sendiri, akhlak terhadap orang lain, akhlak terhadap orang tua, dan akhlak terhadap Nabi dan Rasul. Sedangkan akhlak terhadap bukan manusia dipecah menjadi akhlak terhadap makhluk hidup bukan manusia, dan akhlak terhadap benda mati.

D. Perbedaan Akhlak Dengan Moral dan Etika

  1. Pertama, dasar penentuan atau standar ukuran baik dan buruk yang digunakannya. Standar baik dan buruk akhlak berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sedangkan moral dan etika berdasarkan adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh suatu masyarakat.
  2. Kedua, standar nilai moral dan etika bersifat lokal dan temporal, sedangkan standar akhlak bersifat universal dan abadi. Konsekuensinya, akhlak bersifat mutlak, sedang moral dan etika bersifat relatif (nisbi).

E. Contoh Penerapan Akhlak, Moral, dan Etika dalam Kehidupan

  1. Akhlak. Akhlak kepada Allah, contohnya beribadah kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah Allah untuk menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya, berzikir kepada Allah, yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Akhlak kepada makhluk, contohnya menghormati kedua orang tua, mencintai Rasulullah SAW, dan sebagainya.
  2. Moral dan Etika. Moral adalah wujud nyata dari etika, jadi penerapan keduanya adalah sama. Contoh penerapannya yaitu etika bertamu, etika berbicara, etika kepada orang tua, etika dalam berpakaian, dan sebagainya.

F. Bukti Kebenaran dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits

"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Q.S. Al-Qalam: 4).

“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (Q.S. Shaad ayat 46)

»إنما بعثت لأتم صالح الاخلق»

"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya." (H.R. Tarmizi).

»إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق »

"Aku diutus untuk menyempurnakan perangai (budi pekerti) yang mulia.". (H.R. Ahmad)

BAB IX

AKHLAK TERHADAP ALLAH, MANUSIA, DAN LINGKUNGAN HIDUP

A. Akhlak Terhadap Allah

  1. Beribadah kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah Allah untuk menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya. Seorang muslim beribadah membuktikan ketundukkan terhadap perintah Allah.
  2. Berzikir kepada Allah, yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada Allah melahirkan ketenangan dan ketentraman hati.
  3. Berdo’a kepada Allah, yaitu memohon apa saja kepada Allah. Do’a merupakan inti ibadah, karena ia merupakan pengakuan akan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia, sekaligus pengakuan akan kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu. Kekuatan do’a dalam ajaran Islam sangat luar biasa, karena ia mampu menembus kekuatan akal manusia. Oleh karena itu berusaha dan berdo’a merupakan dua sisi tugas hidup manusia yang bersatu secara utuh dalam aktifitas hidup setiap muslim.Orang yang tidak pernah berdo’a adalah orang yang tidak menerima keterbatasan dirinya sebagai manusia karena itu dipandang sebagai orang yang sombong ; suatu perilaku yang tidak disukai Allah.
  4. Tawakal kepada Allah, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan menunggu hasil pekerjaan atau menanti akibat dari suatu keadaan.
  5. Tawaduk kepada Allah, yaitu rendah hati di hadapan Allah. Mengakui bahwa dirinya rendah dan hina di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu tidak layak kalau hidup dengan angkuh dan sombong, tidak mau memaafkan orang lain, dan pamrih dalam melaksanakan ibadah kepada Allah.

B. Akhlak Terhadap Manusia

  1. Husnuzan. Berasal dari lafal husnun ( baik ) dan Adhamu (Prasangka). Husnuzan berarti prasangka, perkiraan, dugaan baik. Lawan kata husnuzan adalah suuzan yakni berprasangka buruk terhadap seseorang. Hukum kepada Allah dan rasul nya wajib, wujud husnuzan kepada Allah dan Rasul-Nya antara lain: Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua perintah Allah dan Rasul-Nya Adalah untuk kebaikan manusia. Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua larangan agama pasti berakibat buruk. Hukum husnuzan kepada manusia mubah atau jaiz (boleh dilakukan). Husnuzan kepada sesama manusia berarti menaruh kepercayaan bahwa dia telah berbuat suatu kebaikan. Husnuzan berdampak positif berdampak positif baik bagi pelakunya sendiri maupun orang lain.
  2. Tawaduk berarti rendah hati. Orang yang tawaduk berarti orang yang merendahkan diri dalam pergaulan. Lawan kata tawaduk adalah takabur. Allah berfirman , Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya, dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ”Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (Q.S. Al Isra/17:24) Ayat di atas menjelaskan perintah tawaduk kepada kedua orang tua.
  3. Tasamu artinya sikap tenggang rasa, saling menghormati dan saling menghargai sesama manusia. Allah berfirman, ”Untukmu agamamu, dan untukku agamaku (Q.S. Alkafirun/109: 6). Ayat tersebut menjelaskan bahwa masing-masing pihak bebas melaksanakan ajaran agama yang diyakini.
  4. Ta’awun berarti tolong menolong, gotong royong, bantu membantu dengan sesama manusia. Allah berfirman, ”...dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan...”(Q.S. Al Maidah :2)

C. Akhlak Terhadap Lingkungan Hidup

  1. Yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala sesuatu yang disekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan maupun benda-benda yang tidak bernyawa.Pada dasarnya akhlak yang diajarkan al-Qur'an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta bimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaanya.
  2. Dalam pandangan Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang, atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.
    Ini berarti manusia dituntut mampu menghormati proses yang sedang berjalan, dan terhadap proses yang sedang terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertangung jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia itu sendiri.
  3. Binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa semuanya di ciptakan oleh Allah SWT, dan menjadi milik-Nya, serta kesemuanya memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan seorang muslim untuk menyadari bahwa semunya adalah "umat" Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.

D. Dalil-dalil Akhlak Terhadap Allah, Manusia, dan Lingkungan Hidup

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”(Q.S. Al Baqarah :188).


“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". (Q.S. Shaad: 7 1).

Tidak ada komentar: